Wednesday, June 22, 2011

My Beloved X-2

We didn’t realize that we have to going apart. We have to be separated. This year run faster than ever. I –and we- got much unforgettable experience. When all teacher said that our class was the best class in our school. When our teacher was birthday, and we went to gave her surprise but she realized it and actually that surprise failed. When math class, we together to did the task. When we all sat in front of the class, with the smartest people in our class. When math test came, we studied together –all of us, okay- at mosque. When everything was going beautiful and we didn’t realize until we have to go, and not together anymore. When I thought this class would be boring, but this class was so fun all the time, this class was very solid. I never thought this before. When our chemistry test we all got bad scores, and actually it just mistaken from TU teacher and literally it wasn’t our chemistry test score. When one of us got birthday, we went to gave them surprise. When we did homework together. When actually some teachers said that our class went noisier, when our score went uglier. When we called our teacher “Slankers”. when icanya was absurd cause she always believed what we’ve said. When qisti and dienal got relationship and much people didn't believe cause at the first qisti always teased him 'muka datar'. And when we felt that was so hard at the best class but…..actually we enjoyed. I don’t know what I’ve to say. I love you all. I love us. I don’t want to be apart. Thanks for everything, thaks for every tinny little beautiful part. Thanks for the sweetest moment. Thanks for all the time we spent together. I Love you all guys:*

Photobucket


Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket



Love, Dhita :")

Friday, June 17, 2011

"Aku terus meyakini diri sendiri bahwa semua memang baik-baik saja. Semua masih dalam alurnya. Alur yang Tuhan ciptakan se-detail mungkin untuk aku telusuri lika-likunya. Aku masih berusaha menerima semua, meyakini semua, menabahkan hati, bahwa ini, yang terbaik. Entah sampai kapan, bahkan sampai sumpah serapah aku telan kembali, ini masih saja menyakitkan. Tak menemukan ujung yang tak berduri, karena semua tepiannya berduri dan menggesek permukaan kulitku hingga ke tulang. Tetapi tetap saja, aku terus menelan semuanya bahwa ini memang yang terbaik. Sekalipun aku harus mati dalam rasa yang ada di hati. Hingga aku merasa aku sudah cukup gila untuk bisa merasakan sesuatu."

Thursday, June 16, 2011

Di Balik "Selamat Ulang Tahun"
by Bardjan Triarti on Sunday, 30 January 2011 at 13:40
I---- KETIKA ESOK ADALAH HARI ULANGTAHUNMU



Kau sengaja menahan kantuk sedemikian kuat hingga larut tengah malam menyeruak ke permukaan waktu.
Sengaja menyiapkan bergunduk kudapan untuk kau nikmati sepanjang malam menjemput sambil menyiapkan beberapa kepingan film yang kamu sendiri linglung ingin menonton yang mana dulu.
Kau sandarkan ponselmu pada pusaran bantal,
berharap akan ada gemetar-gemetir pada ponselmu yang kemudian menyembulkan ucapan-ucapan dan doa-doa sakral dari kekawanmu,
sehingga kau akan kerepotan untuk memilah kata-kata yang bagus untuk berterimakasih atas ucapan mereka. Atau bahkan kau bingung untuk membalas secara keseluruhan

Di kepalamu ada banyak runtutan harmoni-harmoni yang bersatu menjadi rapsodi bertitel "selamat ulangtahun" dengan partitur kaku yang belum bisa kaunyanyikan sendiri dengan lidahmu
karena kamu ingin mendengarkan bintang-bintang itu yang menyanyikannya untukmu, sehingga gugus di angkasa akan membentuk irama-irama yang manis dan melagukan rapsodi bertitel "selamat ulangtahun" itu dengan bingkai embel-embel namamu pada liriknya.

Kau uring-uringan di depan cermin, menyiapkan beberapa mimik pada raut wajahmu, seperti raut bahagia, terkejut, haru, dan heran. Kau mengganti warna wajahmu berkali-kali di depan cermin sambil memercayai bahwa raut-raut wajah itu akan kaupakai di hadapan kawan-kawanmu ketika hari esok mereka akan menyapamu, menjabat tanganmu sambil mengucapkan selamat akan ulangtahunmu dengan serapah-serapah doa yang mungkin hanya terdengar klasik dan impromptu,tapi sebenarnya penuh makna.
Kau mungkin sering merasakannya; ketika kau mengucapkan selamat ulangtahun pada salah satu temanmu tanpa menyertai doa, kau akan merasa ucapan itu kurang sopan dan kurang manis. Maka kau menambahkan kata-kata doa seperti "semoga" ataupun "mudah-mudahan" pada ucapanmu agar kesannya lebih niat dan sopan. Kau akan menganggap itu sebagai formalitas karena belum tentu kau akan mendoakanteman-temanmu secara praktikal di kehidupan sebenarnya ,bukan?
Namun ketika kamu sedang berulangtahun dan kau menerima ucapan ulangtahun dengan embel-embel doa "semoga...." ataupun "mudah-mudahan...", kau tak akan merasakan doa itu sebagai formalitas dari kawan-kawanmu.
Hatimu akan tanggap menangkap doa itu sebagai doa yang memang didesain kawanmu dari hatinya tanpa kesan klasik atau spontanitas. Kau akan menerima banyak doa yang beragam dan kau sama sekali tak menganggap doa itu hanya sebagai pelengkap pada ucapan selamat ulangtahun yang selama ini kau prasumsikan. Ajaib, eh?

Kau akan menerka-nerka apa yang kawanmu siapkan sebgai kado ulangtahunmu atau sebuah rencana mereka, seperti mengejutkanmu dengan sebuah kejutan ulangtahun yang tak bisa kautebak kapan mulainya dan darimana munculnya. Kau tetap berdiri di depan cermin sambil tersenyum penuh tidak kesabaran akan hari esok. Kau sudah mencium aroma-aroma "kejutan tersembunyi" yang sudah digagas oleh kawan-kawanmu, namun kau tetap bersikap seperti halnya biasa. Kau akan pura-pura tak mengetahui apa-apa ketika esok hari, padahal dalam hati kau harus siap siaga akan responmu ketika menerima siasat kejutan itu. Menurutmu, berhasil atau tidaknya sebuah kejutan ulangtahun juga sangat bergantung pada pihak yang berulangtahun itu sendiri.Kau harus tau bagaimana menghargai sebuah kejutandengan sangat apresiatif. Apa jadinya jika teman-temanmu sudah dengan meriah dan rapi memberi kejutan ulangtahun, tetapi ekspresi dan responmu kurang antusias menyambutnya. Itu sama saja dengan berkata, "Ah, aku sudah menyangka kok kalau kalian akan memberikan kejutan ini."



II---ANGKA TUJUH BELAS


Halo.

Back to the real world. Kau kembali ke kasurmu untuk sekadar tidur-tiduran, mendengarkan musik dari ponselmu, dan menekan-nekan remote televisi sambil mencari acara yang bersahabat dengan rona perasaanmu saat ini. Waktu seakan berjalan dengan satu kaki; dengan tempo yang sangat lambat dan ogah-ogahan, sedangkan alur kehidupan di dalam otakmu berlari cepat dengan kedua kaki. Kau mencoba larut dalam melodi-melodi favoritmu pada plasylist di ponselmu, sambil seekali membuka beberapa social networking untuk menghabiskan banyak waktu, mengobrol lewat chatting messenger, twittering, dan browsing untuk mencari-cari berita terbaru dari selebritis Hollywood favoritmu. Namun, kamu tak menyadari bahwa semua yang kaulakukan sebagai pengisi keluangan waktu tadi adalah tindakan yang percuma, karena seharusnya kau memikirkan bagaimana hari esok adalah lembaran baru dalam kehidupanmu. Kau akan melewati gerbang dari batas-batas fase hidupmu sebagai remaja biasa. Kau akan mempunyai buku baru untuk ditulis dengan kerangka-kerangka hidupmu yang lebih tinggi. Maturitasmu akan lebih diperhitungkan di sini dan ukuran bagaimana kau menghadapi tiap permasalahan dalam hidupmu akan menjadi taruhan sehari-hari.

Apa kau menyadarinya? Mungkin, karena kau sudah terlalu lama tenggelam dalam dunia remaja yang hanya sebatas memikirkan kesenangan untuk hari ini tanpa memikirkan bagaimana esok hari, pola pikirmu masih berjalan statis pada kenyataan baawa kau masih bisa melewati satu hari di sekolahnya. Kau sudah 'kepalang basah' akan anggapan bahwa kehidupan hanya berkisar tentang sekolah, cinta, jalan-jalan, nonton film, tertawa,makan, dan tidur. Sirkulasi itu akan menjadi bahan luntur yang akan menggerogoti pola pikirmu di usiamu yang baru ini. Jika kau akan terus berpikir statis, maka waktu akan membantingmu dengan putarannya yang mahadinamis. Sektor kehidupanmu akan bertambah luas dan tanggungjawabmu akan lebih banyak. Emosimu mungkin masih goyah akan labilitasnya, namun kau juga akan mempergunakan kadar logika yang lebih banyak dibandingkan kadar kerja hatimu.

Tak bisa kaupungkiri, esok usiamu menginjak angka tujuh belas.

"Usia 17 tahun adalah sebuah usia yang bagi sebagian kalangan dianggap sakral. Karena pada usia tersebut, dianggap sebagai sebuah pintu gerbang perubahan kehidupan dari seorang anak menuju kehidupan orang dewasa.
Karenanya, tak jarang ketika memperingati ulang tahun pada angka tersebut ada kalangan yang merayakannya dengan cara yang mereka anggap istimewa. Mengingat pada usia inilah seseorang akan memulai sebuah kehidupan yang diwarnai kebebasan."

Kamu tiba-tiba berhenti pada satu frase di wacana pikiranmu tadi.
'Ada kalangan yang merayakannya dengan cara yang mereka anggap istimewa'

Kau menebalkan tulisan itu dengan spidol berulang kali, kemudian kembali beradu dengan hati dan akal sehatmu.

Esok usiamu tujuh belas tahun dan tak ada sama sekali pesta. Tak ada perayaan berarti yang melibatkan teman-temanmu untuk datang merayakan sambil mengenakan dresscode yang sengaja kau karang sebagai tema pestamu. Tak ada balon atau pita warna-warni yang disinambungkan pada setiap tembok-tembok rumahmu. Tak ada sanak keluargamu yang repot memasak makanan yang lezat-lezat untuk esok hari. Tak ada seperangkat sound sistem yang megah dengan gabungan piano atau organ tunggal di depan teras rumah. Tak ada jajaran kursi-kursi yang seharusnya disewa beberapa hari yang lalu dengan uang muka sebagian. Tak ada gaun berenda-renda anggun yang seharusnya kaubeli dari uang tabunganmu sendiri demi menjadi yang paling cantik esok malam. Tak ada kartu undangan warna-warni yang didisain di atas karton. Tak ada apapun. Hanya ada kau, hari esok dan angka tujuhbelas.

Alunan melodi itu masih saja memainkan kupingmu dengan cermat dan apik. Waktu masih meunjukan pukul 10 malam. Kamu berbaring di kasur selama beberapa menit hingga akhirnya kau tidak sengaja terenyuh dalam suasana malam yang memberatkan matamu. Kamu tertidur.




III---- MALAM HARI DI SUATU TEMPAT YANG AKU RAGU AKAN NAMANYA



Kau terkejut ketika membuka mata sambil menyadari bahwa kamu tertidur sejenak. Cepat-cepat kau menegangkan otot matamu dan lekas bangun dari kasurmu. Kau hendak keluar kamar untuk mencuci muka dan mengambil kudapan untuk malam hari. Sebelum keluar kamar, kau mengecek ponselmu seraya melihat penanda waktu pada layarnya. Kau menghela nafas lega karena ini masih jam 11 malam. Kau belum melewatkan beberapa detik yang mahal pada awal-awal perpindahan usiamu.
Jantungmu lompat beberapa inchi dan matamu membelalak tajam. Kau terkejut setngah mati ketika melihat apa yang terjadi di luar kamar. Kau seperti memasuki dimensi baru dalam ruang kehiduapnmu. Kau mencubit-cunit punggung lenganmu untuk memastikan bahwa kau tak sedang berada dalam alam mimpi yang liar.

Kau seperti berada pada satu ruangan luas dan megah, lantainya terbuat dari porselein yang halus dan dilapisi karpet dari bulu-bulu hewan Persia. Pahatan dinding-dinding kokoh dan megah bercatputih terang dengan hiasa pita-pita berenda, balon warna-warni, dan juga beberapa bingkai lukisan. Ada spanduk tertera di situ, "Happy 17th Birthday, Bardjan!"

Di bagian muka ruangan itu berdiri satu balok panggung yang sangat besar dan cukup tinggi sehingga butuh tangga untuk meraihnya, di atasnya terdapat beberapa set sound system yang berjajaran, beberapa kabel-kabel panjang yang saling berkesinambungan, beberapa stand-microphone dan juga sepasang gitar listrik. Aku naiki panggung tersebut dan dari atas aku bisa melihat betapa kursi-kursi itu menghampar beberapa deret untuk diduduki para tamu.
Di bagian kiri, tak jauh dari panggung kau melihat prasmanan di atas dua meja panjang dengan makanan-makanan lezat, buah-buahan segar bewarna-warni seperti membentuk warna pelangi, dan juga gelas-gelas kaca yang dari bentuknya sangat cocok untuk diisi sirup maupun koktil. Kau terpenrangah sambil tersenyum puas, namun hati kecilmu siapa yang bisa bohong. Hati kecilmu penasaran dengan apa yang terjadi saat ini. Di ruangan besar seperti gedung mewah sewaan itu hanya ada seonggok tubuhmu sendiri yang matanya berkelana mencari satu orang yang berada seruangan sepertimu. kau mencari batang-batang hidung yang lain, seperti orangtuamu, kakakmu, atau mungkin salah seorang tukang yang telah berhasil mendekor ruangan ini menjadi indah,elegan,mewah, dan apik.

Kau mulai merasa ketakutan sekaligus kesepian. Nuranimu sudah berkata berjuta-juta kali bahwa kau sedang bermimpi, tetapi emosimu mengelak dan yakin bahwa kau sedang berada pada ruang dan dimensi yang nyata. Kau akan merayakan pesta ulangtahun besok dan malam ini semua keperluan pestamu sudah begitu siapnya tinggal au memastikan siapa saja yang bakal datang dan gaun mahal apa yang kau bakal kenakan serta perhiasan apa yang bakal kaupakai untuk memperindah hiasan gincu. Namun di sisi lain kau tak bisa menipu diri bahwa kau merasa aneh dan takut.
Dari balik microphone kau berteriak seakan membelahduakan seisi ruangan itu,

"HALLOOOOOO!!!!!"

Tak ada jawaban sama sekali. Hanya pantulan suara yang datang dari kerdamnya dinding-dinding tinggi itu, kemudian menyebarkannya keseluruh ruangan dengan oktaf yang lebih tinggi. Kau merasakan lututmu lemas ketakutan. Nalurimu menyuruh untuk kembali ke kamar dan mengambil ponselmu untuk menghubungi siapa saja untuk meluapkan cerita pada masa ini, tetapi ketika kau turun ke dasar tangga, kau menyadari bahwa pintu kamar yang tadi menyambungkanmu dari ruangan megah ini sudah lenyap. Tidak ada apa-apa. Hanya dinding rata. Tak ada pintu lagi.

Tiba-tiba ruangan menjadi semakin gelap. Cahaya semakin redup seraya satu persatu lampu-lamu yang bebrbentuk kristal safir menggantung di atap itu semakin kehilangan terangnya. Ada suara-suara tawa yang menggelombang entah darimana, seperti sedang dalam kerumunan beberapa orang yang bersenda gurau, tetapi yang kaulihat hanyalah bayanganmu sendiri yang sekarang semakin luntur karena ruuangan itu sudah tak ada cahaya lagi. Kau berlari kencang menuju bagian belakang ruangan itu. Rasa ketakutan dan penasaran adalah gabungan terdasyhat bagaimana seorang pelari marathon bisa berlari kencang samapi garis finish, sebagaiamana kau meraih pintu keluar dari ruangan itu dengan desah nafas yang tak ada aturan.

Kau berhasi keluar dari gedung aneh itu, namun kaukira kau bisa merasa aman dan menang? Kau masih merasa buntu dan seperti anak tersesat. Jalanan di luar sana ternyata sangatlah sepi dengan semilir angin dingin yang memainkan bulu kudukmu naik-turun. Kau tak berbicara apapun, pun bersumpah tak akan menoleh gedung aneh itu untuk kedua kalinya.

Tiba-tiba ada mobil dari kejauhan, mendekat menuju arahmu. Tanpa kau yang memberhentikannya, mobil itu sudah berhenti sendiri di hadapanmu.

"Miss, need some picking up?" Seorang pemuda itu menurunkan kaca jendela mobilnya. Tanpa pikir panjang, kau naik masuk ke mobilnya dan duduk di sebelahnya yang sedang menyetir. Kau melihatnya dari atas sampai bawah; ia adalah seorang pemuda yang berpenampilan rapi dengan setelan seperti sopir taksi. Ia tak menolehmu sama sekali; fokus pada hamparan jalan di depan ekor matanya.

"Kalau boleh tau, ini di mana?" Kau memberanikan diri untuk bertanya

"Able to speak English?" jawabnya sambil menaikan satu mili alisnya. Apa boleh buat, kau merasa sedang menjadi seorang turis yang sudah hatam bahasa Inggris.

"Well, where is this? It's strange," jawabku sambil tergagap-gagp. ia menolehku dengan sapuan lengkung bibir yang sangat manis.

"Strange? No. You are strange. Are you lost? What's the matter that you waring that pajamas? Pajamas party?"

Kau tersadar ternyata memakai piyamamu yang lusuh berwarna merah jambu.
"Well, I am not lost. I just wanna go home, but.... There's something I gotat tell, but please believe me. i am not lying at all." Pemuda itu mengangguk, bersedia mendengarkan ceritamu.

Sepanjang perjalanan kau terlalrut bercerita seperti sedang berorasi di tengah massa. Kau bahkan menggunakanberibu ekspresi untuk menceritakan "dongeng"mu itu. Sekali lagi kau tegaskan bahwa, untuk kali ini, walaupun nuranimu sudah berkata dari tadi bahwa ini hanyalah mimpi, namun kau tetap bersikukuh bahwa kau sedang berada pada alur dimensi yang nyata dan tak ada mimpi ataupun dongeng pengantar tidur yang terselip di sana. Selsai bercerita, pemuda itu tertawa.

"Hahahaha.. So, you would have your own 17th party, but it ended with a horrible thingy. Eeeeew.." Pemuda itu bertampang seperti mengejekmu.

"Yeah, that's why I ran away. That's not my house! And I don't even want to hold my own party, not even in my wildest dream. I just wanna enjoy my day tomorrow just the way it is, without party, without any loud music, without any costly foods, without any great stage, even without any pleasent dress. I just wanna be with my family and belonging with my friends as what I always hope for. And now, I just wanna go home.." Kau megap-megap menggapai oksigen di dalam mobil itu, berhenti sejenak mengambil jeda sambil menarik nafas dalam. Ucapanmu melemah ketika mengucapkan kata-kata "go home".

"I understand, sweety. But, did u know that you are too young to depress about that thing? You are trying too hard to make your birthday worthy. But, it's not what you need. You can make all day in your life so special, not only in your birthday. You can make everyday in your life turn out like a birthday gift; a gift that u can enjoy with your family, friends, or someone that you love for sure." Kau tak menjawab mendengar pernyataan dari pemuda sok bule itu sampai akhirnya ia melanjutkan berkata-kata,

"Remember one thing that your age is only a number, even SEVENTEEN is only a number. because the main thing is, you can get some matures, growing older by your manners, your attitude,and you can work even further to reach your dream. You are grown, sweety!"

Kau terdiam mendengar jawaban pemuda itu. Ada ancang-ancang ucapan yang hendak meluncur dari kerongkonganmu, namun kau tak kuasa mempercayai bahwa ucapan yang barusan keluar dari mulut pemuda itu telah meluluhlantakan hatimu, seperti angin yang mengobrak-abrik taman mimpi di hatimu. Jawaban pemuda itu sunggulah tak panjang namun dapat membuatmu begitu mengerti apa yang sedari tadi bergemuruh di dalam hatimu. Emosimu dan logikamu mulai membuat benang-benang yang saling menyambung dan bersenyawa. Pikiranmu tak lagi butnu; banyak jalan-jalan seperti gang kecil pada otakmu yang menuntunmu perlahan menuju jawaban yang sebenarnya. Kali ini kau menoba menutup mata dan membukanya beberapa detik kemudian untuk memastikan bawha kau masih duduk di sana.

Karena akhirnya hati dan logikamu telah bersikukuh bahwa kali ini kau benar-benar sedang bermimpi.



IV----BIARKANLAH ENGKAU SENDIRI




"So, your home is that way. Just wait a little longer and you'll reach your home."

"Uhmm.. Can you just turn over to the backwards?"

"Why? You said you wanna go home, then."

"No, no, no! I don't wanna go home. Now, could you please take me to the beach?"

Pemuda itu memicingkan matanya dengan heran. Dahinya berbentuk kerutan yang berakar-akar, memberi tanda bahwa kau harus mengulang lagi permintaan yang tadi.

"I said, would you mind accompanying me to the beach? I know that somewhere there is a beach nearby. Nothing is impossible, because I am dreaming.......... And you.. you are not real. You are also dreaming.
Congratulation, we are in a same dream."


-----------------------------------------------------------------------------------------------


Akhirnya kau tiba di pantai, sendirian. Tak peduli lagi akan kesepian atau ketakutan akan hal-hal yang sama sekali jauh dari logika maupun emosimu. Kau sekarang tak butuh lagi rasio untuk menikmati malam ini. Kau menyediakan hati dan otakmuuntuk menjadi orang gila semalam yang tak pernah takut akan kehilangan siapa-siapa. Kau percaya bahwa malam ini adalah mimpi biasa yang muncul pada setiap umat manusia di belahan dunia manapun. Ketika kau terbangun dari tidurmu, kau akan kembali pada dimensi di mana semesta bergulir pada lingkaran waktu yang sebenarnya. Kau tak takut kehilangan siapapun. Kau tidak takut tak bisa menikmati waktu dengan orang-orang terdekatmu, karena setiap hari kau bisa menikmatinya setiap hari, tanpa mengenal momen khusus, ataupun momen hari ulangtahun, atau mungkin ulangtahun ke tujuhbelasmu.

Pemuda itu benar. Umur hanya angka. Dan tujuhbelas juga termasuk angka, bukan?

Kau berlari meuju ombak pantai itu. Kakimu membaur dengan gelombang mungil yang diantarkan oleh laut seraya pasir putih itu menenggelamkan jari-jari kakimu. Kau berdansa-dansa sendiri di panta itu dengan hawa dingin yang menabrak-nabrak tubuhmu, namun kau tetap saja berdansa sendiri. Kau merasakan bagaimana ombak dan angin telah menyajikan satu bentuk rapsodi musik yang paling agung untuk berdansa, seperti lantunan philharmonic yang memanjakan jiwamu terbang. Kau merasakan kebebasan paling bersahaja malam ini, ditemani deburan ombak yang kawin dengan semilir angin dan bau laut yang menyeruak ke dalam tubuhmu.
Malam ini, kau tak hendak pulang ke rumah. Buat apa kau pulang jika sesampainya di rumah ternyata kau masih bermimpi? Jadi kau akan menghabiskan sisa-sisa waktu di mimpimu untuk menikmati kesenidiran yang bebas, sebebas pelesir gelombang laut yang bebas menari sesuka hati. Kau ingin bebas seperti ombak yang hanya pecah ketika dihempas karang raksasa.Kau hanya ingin bebas sebelum aku menuju gerbang baru dalam fase hidupmu, di mana kau tak hanya dituntut untuk bertambah dewasa secara angka, tetapi juga dewasa secara maturitas, perlakuan, cara pandang, dan pola berpikir dalam menghadapi suatu masalah.

Kau mencoba berenang sekuat tenaga menerobos batas pantai tanpa takut tenggelam karena kau yakin ini hanyalah mimpi belaka dan kau tak akan bisa mati konyol dalam mimpi. Hingga akhirnya, beberapa kali kau mencoba melawan ombak dan berapa usaha kaukeluarkan untuk menerobos ombak, ombak malah semakin kuat melemparmu ke pesisir pantai di mana kau berpijak dari awal.

Kau menarik nafas sambil meresapkan bau laut itu pada dalam ragamu, lalu mengeluarkannya dengan pelan sambil tertawa kecil. Kau mulai berdansa lagi di sana. namun kini, kau berdansa sambil bernyanyi.

"Happy birthday to me, happy birthday to me. happy birthday, happy birthday.. happy birthday to me.."




----By Bardjan

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150398869175383

Saturday, June 4, 2011

Maaf

Iya gue tau gue gak bisa main sebebas kalian. Emosi gue paling tinggi diantara semuanya. Gue yg ngomongnya selalu asal ceplos. Gue yg paling bawel. Gue yg kayak gakpernah ngertiin kondisi.

Iya gue tau, gue emang belum jadi temen yang baik.

Kemarin gue gak ikut studytour, kalian bisalah harusnya lebih ngertiin kondisi gue. Gue nggak se'tajir' kalian mungkin? Gue gak sebebas kalian.

Gue tau gue juga masih egois. Masih kekanak-kanakkan. Tapi toh gue juga selalu pengen bikin kalian seneng bareng gue, bisa lepas ketawa deket gue, bisa bagi duka kalian sama gue, gue cuma pengen kalian nganggep gue temen kalian. Temen aja ko bukan sahabat.

Gak usah gue ceritain lah ya kisah gue masalah gue ke kalian, gue juga gak mau dikasihanin. Gue cuma takut ternyata kalian gaksuka sama gue, kalian benci, kalian gak nyaman sama gue, kalian suka ngomongin gue di belakang. Gue takut...........

Gue juga sadar gue pernah ngomongin kita, tapi setidaknya saat ini gue mencoba untuk enggak. Gue gak mau berkhianat lah istilahnya.

Gue tau gue bukan temen yang baik.... Maaf....

Wednesday, June 1, 2011

Welcome June:)



WELCOME JUNE!!!!!!!!!!
please be my moth!!!!!!!!!!!!!!!
New month new days new dreams and new hope!!!!
wishes list
-everything would be alright
-be better person
-my mood stabil
-get best score
-in science class
-my daad get well really soon as soon as possible
-everything'd happen as i wish
and much more!!!!!!!!!!!!!
AMIN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Love, Dhita

Finger Peace Sign